Memaafkan kesalahan orang lain bukanlah suatu tindakan yang mudah dilakukan bagi kebanyakan orang. Perbuatan luhur mengampuni-memaafkan memerlukan banyak tenaga dan keberanian diri (courage), disamping kerelaan, kerendahan hati, dan sekaligus kasih yang murni dari pihak yang mengampuni dan memberikan maaf. Banyak dari kita yang menyebut diri sebagai orang beriman, justru sering ada di persimpangan antara mengampuni atau tidak. Memang sebuah pilihan yang sulit. Kita yang merasa telah dilukai, dikhianati, disisihkan, dilupakan, dibuang, dianggap rendah, atau pun telah diperlakukan negatif, akan merasa perlu membalas perlakuan orang lain tersebut dengan sikap yang sama.
Mungkin kalimat berikut sering anda dengar: ‘to forgive and to forget’, adalah sebuah anjuran positif agar setiap orang mampu untuk memaafkan dan kemudian melupakan. Di dalam Kitab Suci, bahkan ada tertulis agar kita hendaknya mampu memaafkan orang yang bersalah sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali (Mat 18:22). Juga dalam doa Bapa Kami, kita selalu mengucapkan kalimat ‘…dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”
Berapa sering kita mau melaksanakan ini? Memang harus kita akui bahwa mengampuni kesalah orang lain tak semudah itu, terutama jika kita sendiri telah mengalami pedih jika madu yang kita berikan kepada seseorang ditukar dengan balasan racun. Akan lebih mudah jika kita hanya menasehatkan prinsip memaafkan kepada orang lain, asalkan bukan kita yang harus melakukan sendiri.
Ada sebuah tulisan dari abad ke IX yang berbunyi: If we really want to love, we must learn how to forgive. Jika kita sungguh ingin mengasihi, maka kita harus belajar untuk mampu memaafkan. Santo Fransiscus dari Asisi bahkan pernah berkata bahwa melalui laku memaafkan itulah, sesungguhnya kita sudah dimaafkan. Seharusnya dicatat bahwa tindakan memaafkan – mengampuni ini adalah Karunia-Kehidupan yang menyatakan dua hal:
- Pengakuan-diri bahwa aku ini sama lemah dan sama berdosanya dengan semua orang lain di dunia, dan sadar akan kenyataan hidup itu
- Kehidupan pribadi terdalamku akan terlalu tinggi nilainya untuk dapat dirusak atau dikotori oleh apapun itu yang berasal dari luar diriku
Kita tahu bahwa sebagai pengikut Kristus, dianjurkan agar kita selalu mau memaafkan orang lain, bahkan musuh-musuh kita. Dalam Injil tertulis jelas pesan-pesan ini, dan sekaligus tersirat perintah Tuhan tentang tindakan nyata kasih kita untuk mengampuni sesama. Sedikit dari antara umat beriman yang menyadari bahwa memaafkan adalah bentuk akhir dari kasih kita yang sempurna. Pemikiran profan pun mencatat adanya teori bahwa memaafkan itu adalah suatu tindakan yang tercatat pada bab pertama Keutamaan (1st Chapter of Virtue). Pater Henri J. M. Nouwen dalam bukunya Yang Terluka – Yang Menyembuhkan di halaman 44 menyatakan:
…karena pengampunan hanya menjadi nyata bagi orang yang sudah menemukan kelemahan teman-temannya dan dosa musuh-musuhnya di dalam hatinya sendiri, dan kemudian bersedia menerima semua orang itu sebagai saudara sendiri.
Kalimat berikut mungkin bisa memberi kita inspirasi baru: God loves my neighbours, and that makes them my brothers and sisters. Bukankah Tuhan itu kasih? (1 Yoh 4:8)
Sesungguhnya jika Ia memang kasih, tidak dapatkah kita memberikan maaf kepada sesama yang bersalah, yang sebenarnya merupakan wujud akhir cinta kita kepada Tuhan sendiri? Berbahagialah kita yang sudah mampu mengampuni, karena disinilah letak kesempurnaan kasih setiap manusia.
Dalam salah satu bukunya, Pater Anthony de Mello S. J pernah menuliskan agar kita selalu mau belajar untuk mengasihi tanpa syarat, serta memaafkan dengan tulus ikhlas. Kasih dan Pengampunan yang tanpa syarat seperti ini hanya membutuhkan satu kata, ‘walau’, bukan kata ‘kalau’. Kemampuan untuk memaafkan sebetulnya adalah sebuah karunia – suatu keberadaan rahmat yang tidak saja bermanfaat bagi yang diampuni, tapi juga bagi yang memberi pengampunan. Pemberian maaf, tindak mengampuni tadi sebenarnya memberikan bukti nyata tentang Kesempurnaan Kasih. Agaknya hanya sedikit orang saja yang menyadari bahwa kita mampu mengasihi karena Dia yang terlebih dahulu sudah mengasihi kita (1 Yoh 4:19). Kita seringkali mengucapkan doa Bapa Kami, dan oleh karena itu kita tahu bahwa dengan cara mengampuni lah maka kita akan diampuni.
Published for Komunitas Meditasi Sadhana
Samadhi Emaus
Jl. Manggarai Selatan I/31
Jakarta 12860
Edisi 09/Tahun 1/September 2005