Feeds:
Posts
Comments

Terlalu lantang suara suara cukup banyak orang disekeliling kita, yang merasa diri ‘benar’ dan selalu saja mencari cari alasan untuk menunjuk pihak “lain” sebagai pihak yang berSalah. Teriakan teriakan lantang yang seolah KeBenaran hanya ada pada diri sendiri saja?? Semakin banyak orang di jaman Post Modernism masa kini, yang pandai, sigap dalam menyusun pembenaran diri, namun dengan jalan men-jelek-jelekkan orang lain. Benar atau Salah, tak seorangpun yang mampu melakukan ‘validasi pribadi’. Demikian juga halnya dengan pembenaran publik yang juga “belum pasti’ sungguh sungguh Benar di dalam pemikiran banyak orang lain yang berseberangan pendapat. Agaknya Relativisme lebih membahayakan diri kita daripada Apatisme di jaman yang semakin tak menentu ini. Kita acapkali ditantang untuk mampu meMilih & meMilah setiap kasus, tak boleh menyama-ratakan semua. Suatu tugas yang tidak mudah, untuk tetap mampu berdiri pada titik Netral, menilai secara Obyektif, lalu menentukan Sikap kita. Memutuskan buat memilih yang sesuai dengan hati-nurani Pribadi kita masing masing.

Bila ada yang memperhatikan, maka segera kkta akan Sadar bahwa setiap orang butuh Ruang, Waktu buat diri sendiri untuk MeRenungkan, MenDengarkan
Waktu buat Menyendiri dalam “sepi” yang sangat jauh berbeda dari kesepian, merasa ditinggalkan sendirian, tanpa kawan. Heningkan diri melalui Diam, tinggal didalam KeSunyian lebih sering menuntun kita kepada Hening yang Bening. Tak hanya Silence yang dialami, tapi justru Stillness. Dalam Hening diri yang separt ini, ruang dan waktu seolah terhenti sesaat, ada KeSunyian yang mempesona hati kita. Ada rasa Damai yang tak mudah dijabarkan dengan kata kata, namun merupakan suatu pengalaman pribadi yang dapat kita jadikan sebagai “sarana” untuk mendekati Sasaran yang dituju. Disana ada Damai itu. Dalam Hening yang Bening ini Damai Hadir, ada sangat Dekat, jadi sangat jelas. Tak akan ada lagi suara suara lantang yang seolah menyalahkan semua pihak. Tak ada lagi keinginan untuk menyalahkan orang lain, namun justru mau “menilik” ke dalam ruang Batin Pribadi yang tak pernah ‘beres’, tak juga pernah jadi Sempurna didalam diri kita yang sesungguhnya penuh dengan kelemahan, kesalahan, ke-tidak-lengkapan ini . . . . .

Kiranya setiap hati yang berlatih Hening, dapat memahami bahwa Saran yang kita jadikan Sarana, buat mencapai Sasaran setiap kerinduan individu kita masing masing dalam menapaki KeHidupan yang Indah ini . . . . . . . mari bersama-sama menuju kepada Hening yang menDamaikan Hati itu.

Dalam kehidupan manusia yang singkat, hampir setiap pribadi mencari Hikmat ke-Bijak-sanaan serta mengupayakan ke-Bajik-an diri demi meMakna-I Hidup masing masing. Ada dua pilihan yang muncul, yakni keSukses-an ataukah kePenuh-an Hidup. Kedua pilihan berpulang kepada masing masing pribadi yang menjalaninya. Namun pada akhirnya, kita akan sampai pada suatu ‘pilihan pribadi’ yang mutlak hendak kita upayakan. Pilihan untuk “a Satisfactory Life” atau a Fulfilled Life. Pilihan pertama agak mudah dicapai karena menyangkut hal hal nyata seperti a.l. money, authority & name. Uang, KeKuasaan serta KeTenaran Nama bisa diusahakan hampir oleh setiap pribadi unggul yang mampu mendisiplinkan diri sendiri, mau melakukan apa saja yang kita perlukan untuk mendapatkan semuanya ini. Yang nantinya agak rumit adalah menjawab Pertanyaan Abadi Manusia tentang kata “Cukup”.
Berapa banyakkah ‘cukup’ itu?? How Much is Enough??

Tentu setiap individu akan punya tingkatan kebutuhan serta tingkat ke-cukup-an yang berBeda Beda pula. M.A.N Money, Authority, Name. Cukup banyak pihak yang akan cukup puas bila mampu memiliki banyak harta-kekayaan, materi melimpah, status sosial mapan, mempunyai pangkat tinggi, serta dikenal luas dalam pergaulannya, populer diantara kaum sosialita yang ber”kelas” dst. Rasa haus untuk memiliki ‘lebih’ mungkin saja selalu timbul dalam pilihan pertama ini. Hampir tak mungkin rasanya untuk memBatasi pilihan pribadi setiap individu? Maka kita kini dihadapkan pada pilihan kedua yang mungkin akan lebih memikirkan Rasa keSyukuran atas segala hal yang telah dipunyai, tak terlalu memikirkan tentang “Apa yang ku Inginkan” tapi justru tentang Apa yang dapat KuBagikan buat Sesamaku??? PeMAKNAan Hidup tidaklah mungkin diraih hanya dengan memuaskan diri sendiri saja. Semua yang MeLimpah yang dimiliki seseorang, kadang menjerit memohon agar di”bagikan” buat lebih banyak pihak yang memButuhkan. Pilihan terakhir pihak pihak yang mau merenungkan KeHidupan, biasanya selalu kembali kepada Hidup yang Penuh (Wholeness), Hidup yang berMakna (a Meaningful Life) serta Hidup yang memiliki Arti, di”Isi” penuh dengan segala usaha, upaya, amal, Doa Doa, kemampuan berBagi dengan orang Lain, punya tujuan (Purpose) yang nantinya menuntun sang pelaku KeHidupan ini menuju kepada KePenuhan Hidup yang dirinduka  banyak pihak tsb. Disinilah akan terjadi pengalaman Hidup yang BerKe Limpahan. Over Flowing Life yang sering dikatakan oleh banyak Umat BerIman dunia. Tidakkah ini yang kita maksudkan dengan : A Fulfilled Life???

Perjalanan yang sungguh “panjang” antara Nalar menuju ke Nurani kita. Really a very long-journey to arrive at the bottom of our own “Hearts”. Suatu perZiarahan Panjang dari Akal Budi manusia menuju kepada Hati Nurani yang adalah milik kita sendiri? Dan sesungguhnya para Bijak & Filsuf Dunia akan bersetuju bahwa Ziarah terpanjang Hidup kita masing2 adalah mampu mencapai kedalaman hati kita sendiri, dimana akan kita ‘temukan’ Diri Sejati!!

Ada yang mencoba melalui meditasi, Heningkan Diri. Ada pula beberapa sahabat yang memilih cara Pelayanan kepada sesama, tekun dalam Doa Doa. Atau ada juga yang memilih jalan jalan lain yang dianggap sebagai cara yang paling efektif buat mengenali hati-nurani yang paling dalam itu, mampu jadi “diri sejati” yang kita rindukan bersama. Namun dalam realita hidup keseharian kita, acapkali kerinduan tsb.tak pernah kita capai hingga usia tua?? Betapa sering kita temui Pribadi Pribadi hebat, yang sukses menurut ukuran dunia, atau yang cukup tua menurut standard usia, namun masih belum meraih : keMatangan Jiwa yang sesungguhnya. Memang bukan perkara mudah buat mencapai tahapan ini,  walaupun setiap orang berusaha keras untuk me”raih” nya dalam keHidupan kita masing masing . . . . . . . The Longest Journey from the ‘head’ to “The Heart”. Tak salah bila kita mulai sejak Saat Ini, sebelum musim bertanam kita usai sudah. Saat musim menanam masih ada dalam genggaman tangan, hendaknya bertanam bibit itu dilakukan dengan sebaik baiknya sebelum masa “menuai itu” tiba.

Setiap Pribadi tentu yang paling tahu tetang “jalan + cara cara” yang paling sesuai dengan diri & hati masing-masing . . . . . . . Semoga lebih banyak Saudara yang di”mampu”kan meraih tahapan ini, Amin.

All of us are sinners, who fall short in the glory of God. Each one of us is not perfect and why do we expect other people to be so? We should have perfected our own selves, characters, personalities and attitudes. And even so, if we managed to perfect selves, we were not supposed to brag and feel proud about it – since we know that perfection is God’s authority domain. No one can decide who is more perfect from the others, and so neither can we. You and I are the same. We must love one another or perish…

Hate is the source of all evil. So is revenge.

And indeed most of us would fall short and sinful in the presence of the Lord, but with our zest – fervence of love, with our sincere, stillness – emptiness – silence, God is present: through His counsel. His everlasting Love for us given at Calvary!

We know that real love is from Christ’s example in dying for us. And so we ought to lay down our lives for our Christian brothers/sisters ~ I St. John 3:16

Let us do it. It would then and only then that our love is perfected.

In the end, it is just a matter of choice (s) we made, whether to hate or to love others, and each one of us has the liberty to pick whichever way, truth or the lifestyle we chose. Each soul and heart had been blessed by natural grace to differentiate between good and bad, thus to discern.

We know well that we cannot possibly cut glass with a knife. We also cannot split light into two halves by a scissor. We therefore must rely fully on God’s providence to achieve such state of being able to forgive 70x7x. To accept those who do not deserve to be loved under human morality nor  normal conscience, but this way was exemplified by Jesus Christ, oud Lord – our God through His being crucified, the via Dolorosa – the way of sorrow to Calvary!

We devastatedly try to love but more often than not failed.

The spirit is willing but the flesh is weak ~ St. Matthew 14:41

So let us learn to love endlessly until our dying days, without love we are birds with broken wings.

…let us stop just saying we love people, let us really love them, and show it by our actions  ~ 1 John 3:18

To discipline our charism – not paranoia.

We cannot possibly fight fire with fire! The best defense is no offense.

Lebih sering jaman ini memacu kita untuk ikut “arus derasnya”. Orang-orang di sekitar kita memicu keinginan untuk turut dalam gerakan mayoritas karena suara terbanyak adalah yang paling benar. Sungguh menyedihkan. Pengaruh sosial seringkali mendikte keputusan kita! Hanya pribadi yang cukup bijak yang mampu menolak trend. Hanya yang terdidik baik yang mau melakukan pembedaan roh (discernment process) sehingga tidak asal ikut-ikutan. Pertimbangan semacam inilah yang justru perlu kita persiapkan dalam rasa takut akan Tuhan yang Agung (with our holy fear and respect). Pertanyakanlah setiap pernyataan, tidak asal ikut dengan pembenaran kelompok mayoritas. Banyaknya suara dukungan belum tentu yang terbenar. Mari belajar berbijaksana sejenak melalui sejarah, serta senantiasa bersandar sepenuhnya dalam firmanNya.

Yang besar tidak selalu benar! Yang besar tidak harus selalu kita agung-agungkan karena kebenaranlah yang kita bela mati-matian, dengan sepenuh hati. Maka marilah dalam tahun yang baru ini: 2014 kita hendaknya lahir baru! Perpisahan dengan tahun yang sudah berlalu cuma akan dicatat dalam sejarah kehidupan setiap ciptaan, namun hendaknya yang kita geluti adalah saat ini – Tahun 2014 ini yang “sedang” akan kita lalui bersama-sama.

Pernyataan yang telah kita bahas hendaknya membawa kita kepada pertanyaan berikut:

  • Darimanakah asalku dan akan kemanakah aku nanti?
  • Bagaimanakah hendak memberi makna hidupku?
  • Cukupkah hanya dengan sukses, jadi terkenal, banyak harta, memiliki kuasa semata? – Money Authority Name (MAN)
  • Benarkah pernyataah Socrates “Who Am I” – Siapakah aku ini, atau sekedar kalimat “Aku berpikir maka aku ada”?
  • Sudah sadarkah kita tentang milik siapakah aku ini? Siapa pula yang telah menciptakan aku? Who am I? Whose am I?
  • Mana prioritasku dalam hidup ini? Yang urgent atau “utama”. Hidup sukses gemerlap ataukah kepenuhan hidupku?
  • Sejauh mana pengharapanku, sedalam apakah imanku, sebanyak apakah amalku, kasihku, belarasaku? Serta bagaimanakah hidup rohaniku selama ini?

Sudah kukenalkah siapa “Sumber Hidupku”?

Kita semua mampu bertahan hidup, mau berjuang, tahu bagaimana berjaga-jaga senantiasa karena kita punya pengharapan! Tanpa harapan agaknya hidup ini kelam – menakutkan – dingin. 

Memang bukan perkara sederhana untuk membari arti – makna atas hidup kita masing-masing, namun haruskah menunggu? Sebagai ciptaanNya, kita dibatasi waktu dan ruang. Kesabaran menunggu bukanlah keutamaan lagi bila kita ingin melakukan perubahan agar berbuah banyak.

Kiranya setiap ciptaan sadar akan maksud dirinya diciptakan. Kadang kita diperkenankan, diijinkan Tuhan menikmati segalanya dalam hidup yang semena-mena, semau kita sendiri. Kesempatan bertobat selalu Bapa sediakan bila kita mau menanggapi, tidak berpaling daripadaNya, jika kita mau menanggapiNya sebagai umat, anak-anakNya! Adakah pribadi yang sebodoh itu atau bertegar tengkuk, berbalik arah daripadaNya yang Maha Akbar ini…

Tuhan, Bapa kita adalah yang Maha Besar!

Bagi semua saja yang mencintai dia, kiranya kata “Jangan Takut” itu mampu diucapkan mulut manusia. Hanya bagi yang punya rasa takut yang Agung (the Holy Longing) yang semacam inilah Kerajaan Surga disediakan.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetap yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam ~ Mzm 1:1-2, 3

ACCEPTANCE    APPRECIATION    SACRIFICE

Kanak-kanak dan anak kecil adalah makhluk ciptaan – yang bagi mereka Tuhan sediakan Kerajaan SurgaNya. Anak-anak kecil mudah bersyukur, bersuka cita bila ada sesuatu yang mereka lihat, alami, terima, rasakan atau bahkan hanya mendengar saja. Anak kecil sungguh masih sederhana, polos, lugu, tanpa pamrih, tidak munafik! Justru pada orang-orang dewasa yang canggih, berilmu, berpangkat, kaya-raya dan sukses, yang dihormati dalam masyarakat, yang “merasa sudah” kudus, sikap anak kecil itu meredup, meregang sesak nafas, bahkan lenyap hilang tanpa bekas. Mereka takut, khawatir, cemas, bingung, terasingkan, pahit, penuh benci, sehingga kelompok ini dihinggapi ketamakan, iri hati, kerakusan ingin memiliki/menikmati, malas dan sombong, serta dengan angkara murka, penuh nafsu menjalani hidupnya.

We treat other people as we perceive God is treating us

Nasihat jangan takut kiranya mampu memandu kita semua yang tetap mau ada dalam Doa dan Karya (ora et labora), yang dalam kepenuhan hidupnya bersedia berbagi dengan sesamanya dalam syukur, sukacita yang menyejahterakan semua saja yang ada di sekeliling, di sekitar dirinya.

Bagi yang “waras”, tak ada alasan apa pun untuk berpaling menjauhi Pencipta yang Maha Agung yang senantiasa berharap agar semua anak-anakNya diselamatkan, nantinya bergabung dalam kerajaan Kekal yang sudah disediakanNya bagi seluruh umat yang bersedia menanggapi undanganNya.

Sebuah penelitian sosial yang dilakukan di Universitas Harvard USA pernah menyatakan bahwa ciri masyarakat modern adalah perubahan dan perpindahan yang sangat cepat (rapid change + high mobility) ditambah dengan kondisi tidak saling mau mengenal orang lain (anonimity). Sifat egois narsis yang tak mau peduli terhadap sesama manusia.

Kerap kali kita bahkan menyaksikan dan mengalaminya sendiri. Sebegitu pentingnya personal image, pencitraan diri yang sekedar polesan make-up bahkan topeng kepalsuan pribadi. Keunikan sifat lenyap tergilas oleh kemunafikan pribadi. Mereka ingin perubahan segera, bergerak cepat, semua jadi instant, datar-rata tak lagi memiliki “warna khas”. Juga tentunya kepedulian pribadi menjadi sangat minim dan miskin. Yang hanya sibuk buat diri sendiri – tak lagi membangun karakter, apalagi berupaya menjadi diri sejatiku (real self).

Banyak yang terjerat dalam materialisme, penampilan diri, kuasa pangkat, popularitas sesaat, pameo jaman post modernism yang hedonis, dangkal dan kurang makna. Kehormatan manusia kemudian cuma diukur dari harta yang bersangkutan, kuasa, atau pun pencitraan yang kulit semata, tak punya kedalaman! Lebih banyak pihak terpikat pada sukses hidup, namun kurang mau mengembangkan kepenuhan hidup. Semuanya serba sementara sifatnya, tak memiliki kekekalan. Hit and run jadi populer, lips service marak, basa basi semata yang hanya pada permukaan hubungan antar manusia.

Sesungguhnya telah semakin banyak orang di jaman ini yang cukup terpelajar, pintar, berpendidikan tinggi namun sayang tidak terlalu bijaksana, tepat seperti yang pernah diucapkan oleh Lao Tze (221 SM): orang bijaksana belum tentu terpelajar dan yang terpelajar belum tentu bijak. Memprihatinkan sekali. Namun agaknya hal ini menjadi semakin luas tersebar rata di antara banyak pribadi yang terjebak ke dalam pusarannya. Patut kita sayangkan, bukan? Perjalanan hidup yang tidak dimaknai secara benar. Bagaimana kepenuhan hidup hendak diberi arti sesungguhnya? Banyak yang tumbuh: menjadi semakin ‘tua’, jadi lemah dan renta, namun tidak mampu menjadi semakin arif (wise). Sampai kapankah?

Proses pematangan pribadi, pembentukan karakter, empati dan bela rasa hendaknya kita perjuangkan senantiasa, sebelum “masa bertanam kita” usai. Ada saatnya nanti dimana segala sesuatu yang sementara ini berlalu dari hadapan kita masing-masing. Selesai sudah! Dalam iman, pengharapan dan kasih yang kita miliki, pertanyaannya adalah apa yang sedang kupersiapkan?

Knowledge (Ilmu) >< Wisdom (Kebajikan)?

The Fullness of Life – The Quality of our Life Travel: WHOLENESS. Growing up – not just growing old… Sebuah refleksi.

photo

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.