Feeds:
Posts
Comments

Memaafkan kesalahan orang lain bukanlah suatu tindakan yang mudah dilakukan bagi kebanyakan orang. Perbuatan luhur mengampuni-memaafkan memerlukan banyak tenaga dan keberanian diri (courage), disamping kerelaan, kerendahan hati, dan sekaligus kasih yang murni dari pihak yang mengampuni dan memberikan maaf. Banyak dari kita yang menyebut diri sebagai orang beriman, justru sering ada di persimpangan antara mengampuni atau tidak. Memang sebuah pilihan yang sulit. Kita yang merasa telah dilukai, dikhianati, disisihkan, dilupakan, dibuang, dianggap rendah, atau pun telah diperlakukan negatif, akan merasa perlu membalas perlakuan orang lain tersebut dengan sikap yang sama. 

Mungkin kalimat berikut sering anda dengar: ‘to forgive and to forget’, adalah sebuah anjuran positif agar setiap orang mampu untuk memaafkan dan kemudian melupakan. Di dalam Kitab Suci, bahkan ada tertulis agar kita hendaknya mampu memaafkan orang yang bersalah sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali (Mat 18:22). Juga dalam doa Bapa Kami, kita selalu mengucapkan kalimat ‘…dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Berapa sering kita mau melaksanakan ini? Memang harus kita akui bahwa mengampuni kesalah orang lain tak semudah itu, terutama jika kita sendiri telah mengalami pedih jika madu yang kita berikan kepada seseorang ditukar dengan balasan racun. Akan lebih mudah jika kita hanya menasehatkan prinsip memaafkan kepada orang lain, asalkan bukan kita yang harus melakukan sendiri. 

Ada sebuah tulisan dari abad ke IX yang berbunyi: If we really want to love, we must learn how to forgive. Jika kita sungguh ingin mengasihi, maka kita harus belajar untuk mampu memaafkan. Santo Fransiscus dari Asisi bahkan pernah berkata bahwa melalui laku memaafkan itulah, sesungguhnya kita sudah dimaafkan. Seharusnya dicatat bahwa tindakan memaafkan – mengampuni ini adalah Karunia-Kehidupan yang menyatakan dua hal:

  • Pengakuan-diri bahwa aku ini sama lemah dan sama berdosanya dengan semua orang lain di dunia, dan sadar akan kenyataan hidup itu
  • Kehidupan pribadi terdalamku akan terlalu tinggi nilainya untuk dapat dirusak atau dikotori oleh apapun itu yang berasal dari luar diriku

Kita tahu bahwa sebagai pengikut Kristus, dianjurkan agar kita selalu mau memaafkan orang lain, bahkan musuh-musuh kita. Dalam Injil tertulis jelas pesan-pesan ini, dan sekaligus tersirat perintah Tuhan tentang tindakan nyata kasih kita untuk mengampuni sesama. Sedikit dari antara umat beriman yang menyadari bahwa memaafkan adalah bentuk akhir dari kasih kita yang sempurna. Pemikiran profan pun mencatat adanya teori bahwa memaafkan itu adalah suatu tindakan yang tercatat pada bab pertama Keutamaan (1st Chapter of Virtue). Pater Henri J. M. Nouwen dalam bukunya Yang Terluka – Yang Menyembuhkan di halaman 44 menyatakan: 

…karena pengampunan hanya menjadi nyata bagi orang yang sudah menemukan kelemahan teman-temannya dan dosa musuh-musuhnya di dalam hatinya sendiri, dan kemudian bersedia menerima semua orang itu sebagai saudara sendiri.

Kalimat berikut mungkin bisa memberi kita inspirasi baru: God loves my neighbours, and that makes them my brothers and sisters. Bukankah Tuhan itu kasih? (1 Yoh 4:8)

Sesungguhnya jika Ia memang kasih, tidak dapatkah kita memberikan maaf kepada sesama yang bersalah, yang sebenarnya merupakan wujud akhir cinta kita kepada Tuhan sendiri? Berbahagialah kita yang sudah mampu mengampuni, karena disinilah letak kesempurnaan kasih setiap manusia.

Dalam salah satu bukunya, Pater Anthony de Mello S. J pernah menuliskan agar kita selalu mau belajar untuk mengasihi tanpa syarat, serta memaafkan dengan tulus ikhlas. Kasih dan Pengampunan yang tanpa syarat seperti ini hanya membutuhkan satu kata, ‘walau’, bukan kata ‘kalau’. Kemampuan untuk memaafkan sebetulnya adalah sebuah karunia – suatu keberadaan rahmat yang tidak saja bermanfaat bagi yang diampuni, tapi juga bagi yang memberi pengampunan. Pemberian maaf, tindak mengampuni tadi sebenarnya memberikan bukti nyata tentang Kesempurnaan Kasih. Agaknya hanya sedikit orang saja yang menyadari bahwa kita mampu mengasihi karena Dia yang terlebih dahulu sudah mengasihi kita (1 Yoh 4:19).  Kita seringkali mengucapkan doa Bapa Kami, dan oleh karena itu kita tahu bahwa dengan cara mengampuni lah maka kita akan diampuni.

Published for Komunitas Meditasi Sadhana
Samadhi Emaus
Jl. Manggarai Selatan I/31
Jakarta 12860
Edisi 09/Tahun 1/September 2005 

Life’s Struggle

As responsible citizens and people with hearts, we ought to participate in bearing the burden of our unfortunate neigbours. And indeed, we must realize that we are not alone in this life’s struggle in having to face our daily crosses, temptations, sufferings in either sickness or hurts caused by internal and external causes, by epidemic diseases like Swine Flu, or earthquakes and floods. Our best friends may sometimes double cross us, most trusted comrades betrayed our confidence, and still many other kinds of events which may halt our life flow for a while.

Here, we must contemplate that most of the time, our problems are not as heavy as others. If we observe deeper into other people’s life struggles, we may find that ours are nothing. The recent earthquake in West Java and Sumatra had given us enough lessons that those who survived it, need to give a hand to those unfortunate ones. The bomb blast at J.W. Marriott and Ritz Carlton reminds of how fragile and vulnerable we all are, as God’s created-beings.

Our beloved nation suddenly are awakened: that our cultural heritage is the national asset when Malaysia claimed some of ours. Life is about how you choose to see things. We can easily blame Malaysia, or even attack them for having claimed our Indonesian Heritage, but have we considered how (for a long time) we had neglected, disregarded, and even forgotten about the so-called-ancestor’s heritage until somebody else claims it to be theirs?

Would it be ethical to get mad over some little trivial things in our life? Would it be wise to go berserk over matters which we consider to be of our personal pride? Are not Indonesian hospitality and humility our national heritage too? So why must we choose the first option if the latter is naturally wiser and gentler? Certainly we have to understand that everything comes back to our own conduct. It would be our freedom of choice – to get even, or to forgive.

The act of forgiving is such a hard thing to do. It is easy to donate, to give a hand to those who suffer, but it is not easy at all to forgive and to forget. Indeed our life’s struggles are not easier by the days, as we may easily observe through these various events and surprises we encounter daily.

The Magic of Love

Love is like magic and it always will be
For lov still remains life’s sweet mystery
Love works in ways that are wondrous and strange
And there is nothing in life that love cannot change

Love can transform the most common place
Into beauty and splendour and sweetness and grace
Love is unselfish, understanding, and kind
For it sees with its heart and not with its mind

Love is the answer that everyone seeks
Love is the language that every heart speaks
Love cannot be bought, it is priceless and free
Love is like pure magic, is life’s sweet mystery

(author unknown) 

Serving Others

It is common in our modern times to demand service in our daily life. We need other people to serve us, but hardly the other way around. Most people in this materialistic-hedonistic lifestyle would rather have other people to serve them instead of their having to serve others! Most of us prefer ’serve us’ rather than service.

It is also so hard for most of us today to say ‘please’ when ordering someone to serve us, ‘thank you’ when having received a favor, ’sorry’ when mistaken. Yes, we all tend to forget to praise those who had served us, to appreciate the deeds of others for us, to acknowledge favors and be thankful.

If we really understand the meaning of this word: service (servus from Latin origin: slave), we can then appreciate the real purpose of serving. Are not all supposed to serve one another? And having done it with our full awareness, we know that we have done it with good intention, with our humility of heart, since the service we rendered is not being ordered to us by anybody. We simply do this service out of compassionate heart.

May the above illustration remind us always to be ready to serve humanity. Each one of us is in our full liberty to choose, and it is really up to each of us to determine which type of people we chose to be.

We should consider that we are the lucky ones if we are allowed to serve people, since we had been entrusted to do so. Only when people trust that we can render our services. And we understand also that we are not any lower than the ones we served. Service to others is honorable, since it is an act of compassion, an example of humility. Only strong individuals could consider their service as an honorable action, the weak will always think that serving is degrading. Therefore, being a server is not an insult.

Let us from now on serve with confidence. Since serving is sharing with others, and we ought to do this in dignity, as if it were for God.

In this life, it is not what we take up, but what we give up that makes us rich.
- Henry Ward Beacher

Vigil of 20th September ‘09

Pertanyaan untuk apa sebenarnya hidup ini bagiku acapkali sering timbul dalam pikiran kita semua. Apa makna hidupku? Pertanyaan ini akan selalu ditanya oleh akan budi dan hati nurani siapa pun kita, dimana pun, dengan status apa pun, sepanjang perjalanan hidup.

Filsuf dunia, Socrates, malah berani berspekulasi bahwa hidup yang tidak diamati, tidak dicermati, sebenarnya tidak layak dijalani oleh yang menyebut diri manusia hidup. Pengamatan hidup yang cukup mendalam menurut Dag Hammarskjold adalah mengadakan perjalanan ke pusat diri (our being) yang disebut existence, inti diri kita, pusat pribadi kita. Menilik diri seperti itu akan memampukan kita untuk menemukan jawaban kehidupan. Psikolog Carl Jung pun menganjurkan agar jangan sampai kita merasa asing dengan hal-hal yang berkenaan dengan pengalaman batin kita (inner self) karena disinilah justru kita akan mampu menemukan jati diri kita yang sejati (diri sesungguhnya), melalui proses pengenalan diri sendiri.

Setiap orang memiliki prinsip hidup, cita-cita, idealisme yang berbeda, prioritas dan kebutuhan hidup masing-masing. Skala prioritas yang beragam itu dikelompokkan secara indah oleh Abraham Maslow dalam tangga beserta anak-anak tangganya yang beragam, dimulai dari kebutuhan akan makanan, keamanan dari ancaman luar diri, hingga anak tangga tertinggi dari aspirasi seorang manusia, yaitu kemerdekaan dan kesempurnaan. Pada tahapan seperti ini disebutnya sebagai suatu keadaan aktualisasi diri pribadi.

Ada pula yang berpendapat bahwa siapa diri kita ditentukan oleh apa yang kita pikir, rencanakan, inginkan, coba ingin raih saat ini. Bermacam prinsip hidup ditawarkan oleh para pakar psikologi seperti Sigmund Freud (1856-1939), Alfred Adler (1870-1937), hingga para ahli abad ini. Namun semua teori ahli ini lupa membahas aspek-aspek diri manusia di luar ilmu pengetahuan maupun filsafat dunia. Sesungguhnya semua pertanyaan tadi sudah terjawab melalui Hidup Yesus, kesaksian serta contoh-contoh nyata yang telah Ia perlihatkan kepada semua pengikutnya, melalui hidup saling mengasihi. Bukan membenci atau sikap saling memusuhi, hidup damai  bersama dengan sesama.

Only by knowing what love is, that we will understand who God is.

Hampir semua masalah dunia ini dimulai dari krisis hati. Hati manusia yang gundah, iri, khawatir, cemas, kurang damai, sukar untuk mengasihi. Keagungan cinta telah diabaikan dari kehidupan. Di jaman ini semua hal dikaitkan dengan untung-rugi, neraca pertimbangan faedah bagi diri, penghitungan hidup yang mirip prinsip investasi modal. Berapa keuntungan yang akan dicapai dari relasiku ini?

Dunia dengan semua manusia di dalamnya telah terpecah belah. Bukannya dipersatukan. Banyak yang mengisi kehampaan dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Fritz Perlz dengan teorinya mencoba memformulasikan kebutuhan dasar setiap manusia untuk merdeka dan mampu mengekspresikan diri. Setiap orang memperhatikan urusannya sendiri, tak perlu ikut campur dengan masalah orang lain. Kredo Perlz ini mengesampingkan keterkaitan sosial, kebutuhan mendasar manusia yang sungguh saling berkaitan dengan yang lainnya. Hidup kita ini serta kepenuhannya hanya akan tercapai jika ada hubungan antar manusia.

Sesungguhnya setiap manusia membutuhkan kehangatan, keakraban dengan orang lain, saling memperhatikan, berempati, bertanggung jawab, berkomitmen. Kemampuan untuk mengasihi inilah yang menjadi inti hidup serta proses mutlak agar kita bisa menjadi manusia lagi.

Aku ada dimulai dari diriku, namun tidak berakhir pada diriku sendiri saja.

When love is the law,
we need no other,
dnss, Sunday midnight

Ketahanan kita dalam menanggung penderitaan selama hidup di dunia ini agaknya bisa jadi sarana silih dosa yang baik bagi diri sendiri, bahkan untuk menyilih dosa-dosa orang yang kita kasihi. Seperti halnya doa, penderitaan yang kita tanggung dengan tekun, rela dan pasrah, akan membuahkan silih yang berdayaguna.

Tidak banyak umat beriman yang menyadari bahwa panjangnya umur seseorang sesungguhnya dimaksud untuk membentuk karakter diri dan sekaligus melaksanakan silih atas dosanya. Lebih sering orang hanya berpendapat bahwa usia panjang adalah berkat Tuhan yang perlu disyukuri.

Cukup banyak, sayangnya, orang usia lanjut yang kurang bersemangat memperbaiki diri sendiri. Apalagi melakukan silih bagi orang lain. Bahkan tak jarang mereka enggan memperbaiki karakter karena sudah merasa bijaksana dan cukup tahu tentang banyak hal dari pengalaman hidupnya yang panjang.

Sudahkah kita lupa akan ayat Mazmur berikut.

Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat, delapan puluh tahun
Mzm 90:10a

Ayat 3-6 juga berbunyi, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. Tidakkah lebih baik kita pergunakan sisa umur panjang untuk tujuan yang luhur? Dikatakan bahwa lewat usia, manusia lebih mampu mengenal dirinya sendiri. Pertanyaan abadi akan siapakah aku ini lambat laun akan terungkap jelas.

Pertanyaan yang lebih besar adalah: apakah usia kita membentuk pribadi menjadi diri yang semakin dewasa, atau sebaliknya? Ada orang berusia lanjut yang hanya menjadi makin tua usianya saja, ada juga yang bertumbuh dan berakar menjadi karakter panutan bagi yang masih muda. Hanya bagi diri seperti inilah, as I am patut diucapkan.

Experience is not what happens to you.
It is what you do with what happens to you.
Ash Wednesday, 2009

Jalan Pulang

Seringkali bila membahas tentang kata ‘Pulang’, kita semua langsung merasakan kenyamanan rumah. Suatu perasaan yang sulit diuraikan lewat kata-kata, namun sesuatu yang kita rindukan selalu, pada saat kita berada di dalam perjalanan panjang.

Yang mengherankan adalah, masih banyak orang di dunia yang kurang rindu pada Rumah Bapa. Rumah kita bersama. Beberapa justru segan pulang. Lebih banyak pihak yang kurang berminat membahas, apalagi merenungkan tentang Jalan Pulang yang sesungguhnya adalah jalan hidup setiap orang.

Setiap insan ciptaan Tuhan akan senantiasa dipanggil pulang oleh Bapanya, kembali kepada Penciptanya. Acapkali kata berpulang ini hanya jadi sebuah wacana yang muncul sekilas saja dalam pikiran kita, lalu dilupakan kembali untuk waktu yang cukup lama. Wacana pulang baru akan muncul secara nyata, pada saat ada salah seorang keluarga, orang yang kita kasihi, sahabat kita, yang tiba-tiba meninggal dunia, sehingga mau tidak mau kita dihadapkan langsung pada Kematian. Jalan pulang setiap ciptaanNya.

Rata-rata manusia memilih buat menghindar, atau jika mungkin mengabaikan kenyataan hidup ini. Betapa banyak pihak dalam dunia ini yang bersikap seolah mereka masih akan hidup 1000 tahun lagi. Cukup banyak pula yang merasa bahwa waktu mereka akan lama, sehingga akhir perjalanan hidup ini kiranya belum perlu kita bahas sekarang.

Dalam tradisi kuno budaya Timur, agama-agama awal mula, maupun tradisi gereja Katolik perdana, ada suatu kebiasaan bagi biarawan (rahib) untuk duduk atau bermeditasi di antara jasad sesama yang telah meninggal, merenung di pemakaman biara, atau mengunjungi kamar jenazah. Latihan meditasi ataupun praktek semacam ini, dimaksudkan agar yang bersangkutan diingatkan kembali akan asal muasal tiap insan penghuni dunia ini.

The micro-cosmos in the macro cosmos, returning back to the Maha cosmos.

Di dalam setiap hati manusia, kita semua…selalu saja muncul suatu keinginan akan yang Kudus, yang Rohani, atau bisa kita ungkapkan sebagai kerinduan Kudus akan kasih Allah, kerinduan akan spiritual, yang Illahi. Kerinduan seperti ini bisa saja kita istilahkan dengan sebutan apa saja, namun perasaan rindu ini sungguh sama pada setiap hati yang ingin mencintai Tuhan, melalui cara kita masing-masing.

Ada sebagian kita yang kemudian dengan patuh, setia ingin menanggapi keinginan dan kerinduan yang kudus ini, ada pula yang memulai namun terhalang usahanya, bahkan terhenti di tengah jalan, dan ada pula yang malah tidak merasa tertarik sehingga mengabaikannya.

Memang benar bahwa kita semua telah diundang, telah diminta agar bersedia hadir dalam karunia hening. Namun dalam kenyataannya, cukup banyak dari antara kita yang justru lalai atau lupa menanggapi.

Keheningan itu indah menawan, namun acap kali hening tidak terlihat oleh hati yang dipikat oleh kecantikan dunia, hiruk pikuk pesta, lantangnya musik cadas, atau semua gemerlap menarik hati yang ditawarkan dunia. Hati kita justru lebih mudah terpikat oleh kecantikan semua yang ditawarkan dunia dibanding dengan keindahan hening.

Kemewahan hidup, pangkat, kekayaan, status sosial, ataupun kegaduhan dan peristiwa-peristiwa hidup lainnya lebih sering menggeser perlunya hening dalam hidup kita sehari-hari. Aktivitas kerja, sibuk dan padatnya jadwal acara harian kita juga seringkali menimbulkan kendala bagi hening diri.

Dibutuhkan pengertian dan pengetahuan yang cukup untuk bisa menghargai makna hening. Perlu juga seni terhadap kemampuan diri buat mendengarkan. Kata ‘to listen to’ berbeda dengan ‘to hear’ yang artinya mendengar. Semua telinga biasanya hanya mampu mendengar.

Dec 29, vigil

A Deviated Concept of Life

Most modern people of this century had been brain stormed that we need productivity, that time is money, that some of them wished a day has 29 hours so that longer time would allow them to rest, play and sleep well. What a life. Who would wish to have such a life?

It is a fact of life to have to earn a living and we cannot deny that all of us need to do something to produce, to participate in life’s activity. But we must also remember that life is not just for work. Those who live by the sword will die by the sword. People who live for work, may die from his own work too. Being overworked, overburdened, leading to boredom and apatism at last. The question has always been: What’s next?

Here again, money, authority, and name lead us: Nowhere. These 3 are good servants of ours but they are a lousy bosses to those who had been ensnared by their sweet traps. Regrets are useless, once we had been trapped inside their cage. And we are suddenly being enslaved by the three. By then, people become mere articles of their worldly furniture, we are considered an item in an inventory list, a flat parenthesis in life. This is far from our original life purpose in accordance to God’s great Master Plan for us.

Plato’s remark on ‘A life which is not well observed, is not worth living’ becomes real. And yet still so many of us are being tempted to such hedonistic, materialistic way of life. C’est la vie!

What does knowledge avail without the fear of God?
Start from the point where others leave.
Vigil of August 18, 2009

C’est La Vie

More and more people of our time live in a flat life without meanings, building careers, getting busy everyday, rushing up to their offices in the early morning, returning back home late at night, while getting stuck in the middle of heavy traffic both ways to and from the office. Some others keeping themselves burried in the loads of duties, work and work and again ‘work’. Meetings all day long.

Are not there several other options of doing a job? Not all of us are forced to work in a job which demands so much of our time, of our energy. Some of us could choose to live fully by doing a job normally, reasonably, creatively, and yet achieving the same results and objectives of life! But most of us could not feel ‘enough’ in having to achieve the so-called-success in life.

We realize that most people are very much driven and being motivated too much by: money, authority, and name. So many of us are hungry for wealth, riches, power, status, or popularity and fame. These groups of individuals might think that they will be successful and happy if they manage to reach these life qualities. They forgot that there is an expensive cost to pay for, i.e. their loss of quality time, therefore affecting their quality life, its fullness and its wholeness.

A hedonistic materialistic life is actually not so much of interest of people who understand their purpose in life. These worldly material things are just means to achieve our goals in life. They are our good servants, our assistants to help us in achieving our better life: A balanced life, an equilibrium of work, play, and rest. Our 24 hours had been divided wisely for these three divisions: 8 hours for work, and equally so for the other 2. Yet people forgot that such 3 divisions of our day is very important. Happiness is enoughness, set your own trail path.

We receive what we believe!
Well begun is half done.
Vigil of August 18 ‘09

Hening

Suasana hening tidak saja diperlukan setiap orang, tetapi bahkan mutlak bagi hati dan jiwa yang ingin mengalami kasih, damai, dan sukacita dalam hidup ini. Keheningan pikiran, hati, dan jiwa menyebabkan kita dimampukan untuk mendengar, merenung, dan sungguh mengalami kehidupan ini secara total, maksimal, sesuai dengan rencana besar Tuhan.

Banyak kata yang sepadan dengan ‘hening’. Misalnya ‘diam’. Kesendirian dalam sepi, sunyi, yang dalam laku tapa-brata merupakan suatu langkah tapa yang sangat penting. Dalam istilah baku bahasa Inggris, justru kata ‘hening’ ini bisa lebih dikembangkan menjadi ’silence’, ’stillness’, ‘quietude’, ’solitude’. Masing-masing kata merefleksikan maksud yang berbeda, namun semuanya mengarah kembali kepada keheningan. Ada pula istilah Aloneness in Its Total Serenity, yang menunjuk ulang pada kesendirian dalam hening diri.

Keadaan hening tak hanya terbatas pada tidak adanya suara, atau hanya sekedar berada sendirian di suatu tempat yang sunyi, atau bermeditasi tanpa gerak. Hening diri butuh jauh lebih banyak dari itu semua. Jauh lebih dalam, menyeluruh, melampaui kata, karya, karsa. Hening menyentuh hati terdalam kita, jiwa kita, roh kita. Dalam keheningan hati seperti inilah… TUHAN hadir.

Jembatan emas ini sering terabaikan, bahkan hampir lenyap dari budaya megapolitan abad 21. Manusia jaman ultra moderen yang lebih menyukai kegaduhan, suara, bunyi apapun, kebisikan yang tak mungkin bening. Semakin banyak orang kehilangan mutu dan kepenuhan hidup mereka, hanya karena tidak mau menyepi, takut berada sendiri. Laptop tersandang pada bahu, PDA siap di pinggang, iPod atau bluetooth terpasang di telinga. Akankah hening tercapai melalui semua ini?

Sesungguhnya, inikah pencarian diri sejati, atau prioritas hidup setiap orang? Akankah semua peralatan canggih iu membawa kita kepada damai, hening, kasih, ataupun sukacita hati, kecuali informasi? Benarkah bahwa hanya informasi dan komunikasi yang dibutuhkan manusia? Hanya itu sajakah tujuan hidup kita?

Cara terbaik untuk mencapai hening adalah melalui laku mendengarkan.

To be
S I L E N T
through
L I S T E N

Konsep hening hati inilah yang kemudian muncul sebagai sebuah kalimat penuh inspirasi, serta jadi suatu keadaan rahmat bagi yang mengerti.

In the silence of your heart, God speaks.
Silence is the mother of truth.
To be silent is to be with God.

Learn to be silent, and you will know that you have spoken too much.

Jika kita mau memandangi pohon, bunga, atau tanaman, maka kita bisa belajar tentang hening. Pandanglah betapa heningnya mereka. Perkenankan alam semesta mengajar kita tentang keheningan. Matahari, bulan, bintang, semua bergerak dalam hening. Agar bisa menikmati keindahannya, musik juga sebaiknya didengarkan dalam hening. Hening yang bening menuntun hidup kita agar lebih penuh, lebih bermakna, memiliki kualitas tinggi, dan bukan hanya sekedar kita lewati tanpa arti.

Di atas semua ini, yang utama adalah bahwa hening membawa kita semakin dekat kepada hadirat Tuhan. Sementara kita hening, sebenarnya bukan kita yang mencari Tuhan, namun Ialah yang akan datang menemui kita. Into the great silence.

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul dalam hati manusia, semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi dia
1 Kor 2 : 9

Older Posts »