Feeds:
Posts
Comments

photo

For Parents

354107c9819df26d7ad6b980b40ce09a

Tuhan menciptakan sedemikian banyak makhluk, dengan segala keindahan, keunikan bentuk, maupun ada juga yang terlihat ‘kurang’. Tengoklah para hyena di sabana dan stepa Afrika. Atau dingo di Australia. Lalu bandingkanlah bentuknya dengan anjing-anjing Huskies yang lucu dan menggemaskan atau Rottweiler yang gagah-tegap-wibawa. Hyena dan dingo tampak sedemikian jelek, buruk, jauh dari menggemaskan apalagi bila harus disayang-sayang. Tak mungkin ada orang normal yang suka memelihara hyena dan dingo sebagai hewan peliharaan mereka.

Hyena

Dingo

Nyatanya Tuhan menciptakan mereka juga, tetap memberikan masing-masing makhluk suatu kehidupan yang sama dengan binatang lain yang jauh lebih patut dibanggakan karena besar, lucu, gagah, sedap dipandang ataupun yang berguna bagi kehidupan masing-masing. Lihatlah gajah, badak, beruang, banteng dan harimau. Bermainlah dengan kelinci, hamster, anjing kecil, kucing. Kagumilah singa, jaguar, cheetah atau jerapah. Pandangi merak, rajawali dan elang yang sungguh indah. Syukuri keberadaan unggas, burung-burung yang menyeimbangkan jumlah serangga, ikan-ikan yang membasmi jentik-jentik nyamuk atau bahkan cicak yang merayap.

Benturkan dengan ular, buaya, kalajengking ataupun tarantula yang menjijikkan cukup banyak orang di dunia. Lalu mengapa mereka semua tetap Tuhan ciptakan, diadakan?

Agar kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Oleh karena itu kaum beriman hendaknya selalu belajar dan belajar ulang tentang ciptaan Tuhan, terutama sesama kita. Tak semua yang kita sebut sesama manusia itu sama baik, sama santun, bermoral, punya etika. Seringkali terjadi hal-hal yang mengejutkan bahkan mengecewakan kita. Sebagian dari mereka sanggup jadi serigala atau vampir!

Mereka tidak mencabik, apalagi menghisap darah. Cukup memanipulasi uang kita, menipu, memeras, atau kadang menjambret seperti para copet.

Kelompok copet berkerah putih ini bisa muncul sebagai koruptor, pengemplang pajak, atau kadang timbul seperti istilah pagar makan tanaman. Betapa sering kita saksikan pribadi yang dipercaya mengelola keuangan justru yang memakannya sendiri, memelintir laporan, tak mau transparan karena bagi kelompok ini, ‘accountability’ bukan hal penting. Juga mengenai nama baik, reputasi, prestasi, kejujuran yang bagi mereka adalah barang langka yang tidak mereka beli.

Sebagai orang beriman yang percaya Tuhan, kita juga tak akan tega meminjamkan uang kepada teman, sahabat, apalagi saudara dengan bunga/pamrih/syarat. Kita sedianya meminjamkan dengan tulus dan ikhlas. Coba amati apa yang terjadi saat pinjaman tersebut ditagih? Yang berhutang kadang menjadi lebih galak dari pemberi hutang, yang meminjam dengan sopan dan bermulut manis tiba-tiba jadi garang.

Beberapa dari mereka marah, kecewa, merasa dirugikan. Apa yang terjadi di sini?

Seperti halnya penciptaan makhluk-makhluk, hewan dan tumbuhan, hanya Tuhanlah yang maha tahu. Tanpa bermaksud lancang atau sok tahu, tidakkah kita sesekali bertanya tentang maksud Tuhan menciptakan varietas manusia seperti ini? Tentu ada rencana Tuhan: untuk menghaluskan hati kita, menguji kesabaran kita, menempa perasaan dan emosi kita, agar anak-anak terang lulus dari segala pencobaan hidup yang fana ini.

Ad maiorem dei gloriam.

Sertai kami selalu Yesus, bimbing tangan kami, terangi jalan kami Abba, luruskan hati kami Bapa.

Agaknya kita semua diminta, diharapkan mau menerima misteri kehidupan ini dalam kelapangan hati, kebesaran jiwa untuk menerima. Acceptance.

Hanya pribadi yang mau berserah diri kepada penyelenggaraan Tuhan lah yang nantinya akan dikaruniai hidup abadi dalam kerajaan surga yang dipersiapkan bagi mereka, kita semua yang taat, setia, sederhana, rendah hati, lemah lembut, murah hati, penuh kasih, menerima keadaan, pasrah, menyerahkan diri dalam lindungan Tuhan saja. Kuasa tangan Tuhan dinyatakan dalam kelemahan kita.

Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menyatakan keprihatinan yang mendalam tentang dirinya sendiri dan juga banyak orang di sekitarnya. Keprihatinan yang sama bahkan lebih parah sedang juga terjadi saat ini. Orang-orang bodoh menganggap dirinya hebat.

Dan bila sang Maha Guru kita saja pernah diperlakukan seperti itu, siapakah kita manusia sehingga dihindarkan dari perlakuan yang sama oleh sesama? Sesungguhnya salah satu salib yang perlu kita pikul dalam hidup bermasyarakat, adalah menemukan dan mengalami semua itu. Mulai dari penderitaan, sakit hati, keterpisahan diri (alienasi), merasa sendirian saja dalam kehidupan yang fana dan singkat ini. Alone but not lonely!

Dalam masa yang semakin sulit dan tak menentu ini, kita justru diharapkan bisa semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, berjuang lebih gigih, teguh dalam iman, senantiasa dipenuhi harapan dan melakukannya demi kasih.

Vigil, Vesper 19th Jan MMXII

Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yoh 11:25)

Setiap pribadi tentu pernah terjatuh dan kata kuncinya adalah: bangun lagi, bangkit kembali. Tak mau mengasihani diri sendiri apalagi menyesali yang telah terjadi. The show must go on.

Hidup ini terus berputar, menggelinding maju, tidak statis saja. Karena itu setiap ciptaan hendaknya tidak meratapi diri apabila terjatuh, terkena prahara/musibah, terjerembab sesaat.

Ada suatu rencana besar Tuhan atas setiap perkara dalam hidup ini. God’s master plan yang tak pernah kita ketahui. Suatu misteri…

Ungkapan God works in a mysterious way sungguh terjadi!

Iman kristiani tak pernah mengenal kata putus asa, karena kita semua punya Yesus Kristus yang adalah sang Cinta Kasih sehingga setiap orang yang beriman kepadanya akan senantiasa memiliki: pengharapan akan kasih setia Bapa kita.

Janji-janji Tuhan terjadi – digenapi dari sejak dulu kala, sekarang, hingga kekal abadi sepanjang segala masa.

Yang bermeditasi tentu mengenal latihan doa dengan tubuh dan jiwa (body and soul). Juga kita tahu bahwa 3 perintah Allah yang pertama adalah hubungan vertikal ciptaan dengan penciptanya dan 7 perintah lainnya, adalah murni horizontal, inter relasi antara manusia di dunia ini.

Dalam Puri Batin St. Theresia Avila, kita paham bahwa ada tujuh ruangan (the 7 Chambers of the Interior Castle). Empat ruang pertama adalah tentang hidup manusia di dalam Allah, sedangkan tiga ruang terakhir adalah/merupakan hidup Allah di dalam ‘manusia’. Dahulu kita hidup menuruti tubuh, daging, nafsu badani, kemudian meningkat menuju roh hidup di dalam Tuhan, meninggalkan manusia lama untuk menjadi manusia baru yang hidup menurut roh.

Kata pemulihan (pulih) perlu tindakan rehabilitasi yang di dalam kamus bahasa mengandaikan suatu tindak pengembalian reputasi, peringkat, atau kondisi yang sempat hilang, tercemar ataupun terganggu fungsinya, mengembalikan pada keadaan sebelum kejadian, gangguan, cemar/rusak/sakit. Biasanya tahap rehabilitasi menuntuk kita untuk memulai dari awal lagi. Yang terkena sakit, stroke, atau pencemaran nama harus mulai belajar berjalan lagi, menggerakkan bagian yang lumpuh, meniti kembali jalan-jalan sederhana seperti kanak-kanak kembali.

Kata pemurnian juga membutuhkan kualitas kerendahan hati. Yang sombong akan merasa sudah baik, sangat oke sehingga tidak butuh dimurnikan, tidak perlu rehab karena semua baik-baik saja. Untuk pulih dan jadi murni, butuh keberanian buat mengaku bahwa:

  1. Aku selalu butuh orang lain, sesama manusia, perlu ditolong.
  2. Aku ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tak berdaya sendiri.
  3. Aku sedemikian lemah, tak mampu, tak punya, tak bisa.
  4. Aku tak selayaknya lupa diri, apalagi sombong karena apa pun.
  5. Dan yang terpenting adalah, aku ini milik siapa? Tuhanku…

Oleh karena itu, aku harus lebih banyak menolong, aku tak boleh lagi sombong, jumawa, lupa diri, tidak ugahari. Aku ini bukan apa-apa, aku berasal dari debu tanah dan segera akan kembali ke tanah lagi.

Adalah suatu anugerah Tuhan bilamana ada pribadi yang disadarkan sebelum ajal itu tiba menjemput kita, walaupun masih cukup banyak kaum lanjut usia yang belum mau mengakui fakta hidup ini… Maka berbahagialah orang yang sadar, dirahmati Tuhan buat memulai pertobatan sejati melalui hidup yang ‘benar’ di hadapan Tuhan dan sesama manusia… amin!

Pelayanan setiap orang kiranya perlu dimurnikan kembali dari waktu ke waktu, ketulusan hati, keheningan meditasi pun tak luput dari proses ‘pembedaan roh’ (discernment process) agar roh, jiwa, pikiran dan tubuh kita ini senantiasa bersedia dibentuk ulang, dihancur luluhkan jika perlu agar tempayan rapuh ragawi kita diciptakan kembali – dilahirkan baru terus-menerus oleh kuasa tangan Tuhan yang maha tahu segala rencana besarNya.

Masa Prapaskah adalah saat-saat penuh berkat buat tirakat, askese pribadi, penyangkalan diri, pengendalian perasaan, bukan sekedar berpuasa dan berpantang saja. Waktu yang sempurna untuk silih dosa kita, metanoia, bertobat. Dalam persekutuan seluruh pribadi, komunitas gereja kudus seluruh dunia Koinonia yang bagaikan pedang bermata dua, mampu mempersatukan yang tercerai-berai, mau turut berbagi dalam penderitaan Kristus, menyatu denganNya lewat Ekaristi Kudus demi kesatuan seluruh komunitas Gereja kita. Juga keutuhan semua yang telah terbina dalam keluarga, kelompok, lingkungan, komunitas seluruhnya.

Dunia bergembira bila kita tercerai berai, terpecah belah. Demikian juga iblis bersukacita manakala timbul konflik pertentangan, permusuhan, rasa dendam, amarah yang sesungguhnya berakar pada kesombongan diri kita sendiri. Maka mari kita perangi si jahat dengan kelemahlembutan, bukan dengan kekerasan, lewat kerendahan hati, bukan lagi kesombongan, dengan kemurahan hati kita semua agar Tuhan mampukan, memaafkan, melupakan sakit hati, memulai sekali lagi dengan lembaran baru. Apa yang telah disatukan oleh Tuhan, hendaknya jangan kita ceraikan, keruhkan, kacaukan melalui pemutarbalikan fakta.

Banyak yang tak sempat memikirkan bahwa persatuan itu sungguh sama pentingnya seperti damai dan sukacita. Lebih sering manusia bertengkar mempertahankan prinsip yang acapkali bergeser kebenarannya lewat kondisi dan waktu. Orang lebih memilih mengikuti perasaan mereka, emosi, atau bahkan kesewenangan kuasa untuk menguasai, mendominasi, memonopoli banyak hal, harta, kuasa, nama. Ketamakan lebih kerap memenangkan pertarungan batin banyak orang beriman. Popularitas, gengsi, harga diri, kekuasaan, jabatan lalu menjadi semacam piala, trophy, medali yang diperebutkan. Fitnah kemudian menjadi halal. Bersaksi dusta, gosip, mengarang versi cerita baru, atau pun pembenaran diri menjadi merajalela. Segala sesuatu menjadi relatif.

Ketaatan diri, kesederhanaan sikap, kemurnian intensi, lalu menjadi sesuatu yang ada di luar kemampuan manusia. Banyak pribadi yang lalu tersapu oleh samudra kehidupan fana, melupakan akhirat. Hukum rimba jadi biasa, si kuat menekan yang lemah, si pandai menipu yang bodoh. Orang jujur terperangkap, yang lugu tertipu, yang baik akan dijebak, fitnah meraja, sikap curiga merata… di semua!

Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian – hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mzm 90:12)

Setiap orang sakit butuh suatu jarak – waktu untuk pulih kembali, dan masa pemulihan tersebut bisa menjadi kutuk, atau kebalikannya: berkat – bila Tuhan berkehendak! Saat-saat hening selama masa itu kiranya mampu mendidik, mengajar yang bersangkutan agar mau belajar ulang, memurnikan hatinya, menjernihkan intensinya, meluruskan pikiran-pikirannya.

Cuti sabbath, liburan/vacation/holiday, menarik diri dari kegiatan harian rutin seseorang adalah salah satu cara unik untuk ‘nyepi’, menyendiri, pergi jauh meninggalkan semua. Berada sendirian dengan Tuhan merupakan laku tapa yang mungkin bermanfaat bagi yang telah jenuh, menghibur bagi yang tersakiti, melegakan bagi yang sesak hatinya.

Banyak orang menyangka atau bahkan berprasangka bahwa bila seseorang hendak menyepi, ini artinya yang bersangkutan kecewa, marah, atau tertekan, patah hati, dll. Bahkan bisa dituduh melarikan diri dari realita, kenyataan hidup, tanggung jawab kita. Sesungguhnya tidaklah harus selalu demikian.

(Mzm 94:17-19)

Silentio, hening, staying in solitude, getting in touch with the serenity of silence – bukanlah tindak melarikan diri, melainkan menarik diri, menyingkir, mengalah sejenak, bukannya satu tindakan pengecut, tetapi justru agar tidak terjadi suatu pertentangan, konflik besar, atau bahkan pertumpahan darah!

Raja Daud  sadar akan peristiwa seperti itu, bersedia mengalah saat Absalom putranya memberontak, mengkudeta ayahnya (bdk. 2 Sam 15:13-14, 30; 2 Sam 16:5-13). Mengalah dan pergi adalah cara Daud untuk menghindari ‘benturan keras’ karena sesungguhnya tak ada kekerasan yang menghasilkan damai. Kekerasan menimbulkan kekerasan yang lebih besar lagi, lalu muncul dendam yang tak berkesudahan.

Kearifan Daud melarikan diri dari Yerusalem (2 Sam 15:30)

Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut.

Begitu pula ia tidak mengijinkan pengawal-pengawal pribadinya untuk memenggal kepala Simei yang mengutuki dia sebagai raja. Beginilah perkataan Simei pada waktu mengutuk: Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah orang dursila (2 Sam 16:7).

Yang ditanggapinya dengan mengatakan: Biarlah ia mengutuki… Sebab apabila Tuhan berfirman kepadanya, Kutukilah Daud – siapakah yang akan bertanya; Mengapa engkau berbuat demikian? (2 Sam 16:10b)

Jika ingin jadi murni dan pulih, adakah seorang hamba akan diluputkan dari semua pencobaan hidup ini? Mengubahkan segala kutuk jadi berkat, blessing in disguise, that’s all we must do.

Vigil of Ash Wednesday, MMXII

Body and Soul

Ada seorang sahabat bijak yang pernah berkata,

Face your soul and perfect your virtues – because you are called human beings, not because of your “bodies” but because of your soul…

Satu lagi,

You are not a human being in search of some spiritual experience, but you are a spiritual being, immersed in some humanly experience ~Pierre Teilhard de Chardin SJ

Dari dasar pemikiran tersebut, kita sedang diajak untuk: merohanikan tubuh yang lemah dan fana ini, melalui latihan jiwa (soul); membentuknya sesuai dengan awal mula penciptaan manusia yang sesuai dengan citra Tuhan. Pencarian jati diri sejati tak pernah bergerak “keluar” atau mencari “ketinggian” namun justru menukik ke “dalam diri” kita sendiri (into the depth, not the height!)

Oleh sebab itu para meditator senantiasa melatih diri agar mampu berakar dalam (well-rooted), menilik jauh ke dalam diri sendiri; the self within our true selves. Jasmani yang dirohanikan.

Tubuh jasmani (body/badan) hanyalah merupakan sarana. Badan kita sangat berguna dalam latihan meditasi dan doa. Namun, akan tiba saatnya (melalui rahmat Tuhan) bahwa bukan lagi mulut atau tubuh yang berdoa, akan tetapi jiwa dan roh yang akan berkata-kata dan berdoa bagi kita.

Demikian juga roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa tetapi roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26)

Akan tiba waktunya manakala tubuh tidak lagi berdoa atau bermeditasi, melainkan roh yang melakukannya untuk kita. Pater Anthony de Mello SJ mengenalnya sebagai pencerahan (enlightenment), Sr. M. Seraphine OSF menyebutnya sebagai transformasi diri, dan kita boleh mengalaminya lewat: rahmat kerahiman Tuhan saat tubuh tak lagi mencari, namun justru roh yang akan menggantikannya.

Keluhan-keluhan yang tidak terucapkan lebih mengindikasikan kepada hening diri, doa hati, silence, permohonan tanpa kata. Latihan meditasi yang tekun dan benar menghantarkan kita kepada hening nan bening itu.

The fullness of life: living from moment to moment. I believe in being fully alive and present.

Vigil of Nov 24, 2010

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.