Feeds:
Posts
Comments

All of us are sinners, who fall short in the glory of God. Each one of us is not perfect and why do we expect other people to be so? We should have perfected our own selves, characters, personalities and attitudes. And even so, if we managed to perfect selves, we were not supposed to brag and feel proud about it – since we know that perfection is God’s authority domain. No one can decide who is more perfect from the others, and so neither can we. You and I are the same. We must love one another or perish…

Hate is the source of all evil. So is revenge.

And indeed most of us would fall short and sinful in the presence of the Lord, but with our zest – fervence of love, with our sincere, stillness – emptiness – silence, God is present: through His counsel. His everlasting Love for us given at Calvary!

We know that real love is from Christ’s example in dying for us. And so we ought to lay down our lives for our Christian brothers/sisters ~ I St. John 3:16

Let us do it. It would then and only then that our love is perfected.

In the end, it is just a matter of choice (s) we made, whether to hate or to love others, and each one of us has the liberty to pick whichever way, truth or the lifestyle we chose. Each soul and heart had been blessed by natural grace to differentiate between good and bad, thus to discern.

We know well that we cannot possibly cut glass with a knife. We also cannot split light into two halves by a scissor. We therefore must rely fully on God’s providence to achieve such state of being able to forgive 70x7x. To accept those who do not deserve to be loved under human morality nor  normal conscience, but this way was exemplified by Jesus Christ, oud Lord – our God through His being crucified, the via Dolorosa – the way of sorrow to Calvary!

We devastatedly try to love but more often than not failed.

The spirit is willing but the flesh is weak ~ St. Matthew 14:41

So let us learn to love endlessly until our dying days, without love we are birds with broken wings.

…let us stop just saying we love people, let us really love them, and show it by our actions  ~ 1 John 3:18

To discipline our charism – not paranoia.

We cannot possibly fight fire with fire! The best defense is no offense.

Lebih sering jaman ini memacu kita untuk ikut “arus derasnya”. Orang-orang di sekitar kita memicu keinginan untuk turut dalam gerakan mayoritas karena suara terbanyak adalah yang paling benar. Sungguh menyedihkan. Pengaruh sosial seringkali mendikte keputusan kita! Hanya pribadi yang cukup bijak yang mampu menolak trend. Hanya yang terdidik baik yang mau melakukan pembedaan roh (discernment process) sehingga tidak asal ikut-ikutan. Pertimbangan semacam inilah yang justru perlu kita persiapkan dalam rasa takut akan Tuhan yang Agung (with our holy fear and respect). Pertanyakanlah setiap pernyataan, tidak asal ikut dengan pembenaran kelompok mayoritas. Banyaknya suara dukungan belum tentu yang terbenar. Mari belajar berbijaksana sejenak melalui sejarah, serta senantiasa bersandar sepenuhnya dalam firmanNya.

Yang besar tidak selalu benar! Yang besar tidak harus selalu kita agung-agungkan karena kebenaranlah yang kita bela mati-matian, dengan sepenuh hati. Maka marilah dalam tahun yang baru ini: 2014 kita hendaknya lahir baru! Perpisahan dengan tahun yang sudah berlalu cuma akan dicatat dalam sejarah kehidupan setiap ciptaan, namun hendaknya yang kita geluti adalah saat ini – Tahun 2014 ini yang “sedang” akan kita lalui bersama-sama.

Pernyataan yang telah kita bahas hendaknya membawa kita kepada pertanyaan berikut:

  • Darimanakah asalku dan akan kemanakah aku nanti?
  • Bagaimanakah hendak memberi makna hidupku?
  • Cukupkah hanya dengan sukses, jadi terkenal, banyak harta, memiliki kuasa semata? – Money Authority Name (MAN)
  • Benarkah pernyataah Socrates “Who Am I” – Siapakah aku ini, atau sekedar kalimat “Aku berpikir maka aku ada”?
  • Sudah sadarkah kita tentang milik siapakah aku ini? Siapa pula yang telah menciptakan aku? Who am I? Whose am I?
  • Mana prioritasku dalam hidup ini? Yang urgent atau “utama”. Hidup sukses gemerlap ataukah kepenuhan hidupku?
  • Sejauh mana pengharapanku, sedalam apakah imanku, sebanyak apakah amalku, kasihku, belarasaku? Serta bagaimanakah hidup rohaniku selama ini?

Sudah kukenalkah siapa “Sumber Hidupku”?

Kita semua mampu bertahan hidup, mau berjuang, tahu bagaimana berjaga-jaga senantiasa karena kita punya pengharapan! Tanpa harapan agaknya hidup ini kelam – menakutkan – dingin. 

Memang bukan perkara sederhana untuk membari arti – makna atas hidup kita masing-masing, namun haruskah menunggu? Sebagai ciptaanNya, kita dibatasi waktu dan ruang. Kesabaran menunggu bukanlah keutamaan lagi bila kita ingin melakukan perubahan agar berbuah banyak.

Kiranya setiap ciptaan sadar akan maksud dirinya diciptakan. Kadang kita diperkenankan, diijinkan Tuhan menikmati segalanya dalam hidup yang semena-mena, semau kita sendiri. Kesempatan bertobat selalu Bapa sediakan bila kita mau menanggapi, tidak berpaling daripadaNya, jika kita mau menanggapiNya sebagai umat, anak-anakNya! Adakah pribadi yang sebodoh itu atau bertegar tengkuk, berbalik arah daripadaNya yang Maha Akbar ini…

Tuhan, Bapa kita adalah yang Maha Besar!

Bagi semua saja yang mencintai dia, kiranya kata “Jangan Takut” itu mampu diucapkan mulut manusia. Hanya bagi yang punya rasa takut yang Agung (the Holy Longing) yang semacam inilah Kerajaan Surga disediakan.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetap yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam ~ Mzm 1:1-2, 3

ACCEPTANCE    APPRECIATION    SACRIFICE

Kanak-kanak dan anak kecil adalah makhluk ciptaan – yang bagi mereka Tuhan sediakan Kerajaan SurgaNya. Anak-anak kecil mudah bersyukur, bersuka cita bila ada sesuatu yang mereka lihat, alami, terima, rasakan atau bahkan hanya mendengar saja. Anak kecil sungguh masih sederhana, polos, lugu, tanpa pamrih, tidak munafik! Justru pada orang-orang dewasa yang canggih, berilmu, berpangkat, kaya-raya dan sukses, yang dihormati dalam masyarakat, yang “merasa sudah” kudus, sikap anak kecil itu meredup, meregang sesak nafas, bahkan lenyap hilang tanpa bekas. Mereka takut, khawatir, cemas, bingung, terasingkan, pahit, penuh benci, sehingga kelompok ini dihinggapi ketamakan, iri hati, kerakusan ingin memiliki/menikmati, malas dan sombong, serta dengan angkara murka, penuh nafsu menjalani hidupnya.

We treat other people as we perceive God is treating us

Nasihat jangan takut kiranya mampu memandu kita semua yang tetap mau ada dalam Doa dan Karya (ora et labora), yang dalam kepenuhan hidupnya bersedia berbagi dengan sesamanya dalam syukur, sukacita yang menyejahterakan semua saja yang ada di sekeliling, di sekitar dirinya.

Bagi yang “waras”, tak ada alasan apa pun untuk berpaling menjauhi Pencipta yang Maha Agung yang senantiasa berharap agar semua anak-anakNya diselamatkan, nantinya bergabung dalam kerajaan Kekal yang sudah disediakanNya bagi seluruh umat yang bersedia menanggapi undanganNya.

Sebuah penelitian sosial yang dilakukan di Universitas Harvard USA pernah menyatakan bahwa ciri masyarakat modern adalah perubahan dan perpindahan yang sangat cepat (rapid change + high mobility) ditambah dengan kondisi tidak saling mau mengenal orang lain (anonimity). Sifat egois narsis yang tak mau peduli terhadap sesama manusia.

Kerap kali kita bahkan menyaksikan dan mengalaminya sendiri. Sebegitu pentingnya personal image, pencitraan diri yang sekedar polesan make-up bahkan topeng kepalsuan pribadi. Keunikan sifat lenyap tergilas oleh kemunafikan pribadi. Mereka ingin perubahan segera, bergerak cepat, semua jadi instant, datar-rata tak lagi memiliki “warna khas”. Juga tentunya kepedulian pribadi menjadi sangat minim dan miskin. Yang hanya sibuk buat diri sendiri – tak lagi membangun karakter, apalagi berupaya menjadi diri sejatiku (real self).

Banyak yang terjerat dalam materialisme, penampilan diri, kuasa pangkat, popularitas sesaat, pameo jaman post modernism yang hedonis, dangkal dan kurang makna. Kehormatan manusia kemudian cuma diukur dari harta yang bersangkutan, kuasa, atau pun pencitraan yang kulit semata, tak punya kedalaman! Lebih banyak pihak terpikat pada sukses hidup, namun kurang mau mengembangkan kepenuhan hidup. Semuanya serba sementara sifatnya, tak memiliki kekekalan. Hit and run jadi populer, lips service marak, basa basi semata yang hanya pada permukaan hubungan antar manusia.

Sesungguhnya telah semakin banyak orang di jaman ini yang cukup terpelajar, pintar, berpendidikan tinggi namun sayang tidak terlalu bijaksana, tepat seperti yang pernah diucapkan oleh Lao Tze (221 SM): orang bijaksana belum tentu terpelajar dan yang terpelajar belum tentu bijak. Memprihatinkan sekali. Namun agaknya hal ini menjadi semakin luas tersebar rata di antara banyak pribadi yang terjebak ke dalam pusarannya. Patut kita sayangkan, bukan? Perjalanan hidup yang tidak dimaknai secara benar. Bagaimana kepenuhan hidup hendak diberi arti sesungguhnya? Banyak yang tumbuh: menjadi semakin ‘tua’, jadi lemah dan renta, namun tidak mampu menjadi semakin arif (wise). Sampai kapankah?

Proses pematangan pribadi, pembentukan karakter, empati dan bela rasa hendaknya kita perjuangkan senantiasa, sebelum “masa bertanam kita” usai. Ada saatnya nanti dimana segala sesuatu yang sementara ini berlalu dari hadapan kita masing-masing. Selesai sudah! Dalam iman, pengharapan dan kasih yang kita miliki, pertanyaannya adalah apa yang sedang kupersiapkan?

Knowledge (Ilmu) >< Wisdom (Kebajikan)?

The Fullness of Life – The Quality of our Life Travel: WHOLENESS. Growing up – not just growing old… Sebuah refleksi.

photo

For Parents

354107c9819df26d7ad6b980b40ce09a

Tuhan menciptakan sedemikian banyak makhluk, dengan segala keindahan, keunikan bentuk, maupun ada juga yang terlihat ‘kurang’. Tengoklah para hyena di sabana dan stepa Afrika. Atau dingo di Australia. Lalu bandingkanlah bentuknya dengan anjing-anjing Huskies yang lucu dan menggemaskan atau Rottweiler yang gagah-tegap-wibawa. Hyena dan dingo tampak sedemikian jelek, buruk, jauh dari menggemaskan apalagi bila harus disayang-sayang. Tak mungkin ada orang normal yang suka memelihara hyena dan dingo sebagai hewan peliharaan mereka.

Hyena

Dingo

Nyatanya Tuhan menciptakan mereka juga, tetap memberikan masing-masing makhluk suatu kehidupan yang sama dengan binatang lain yang jauh lebih patut dibanggakan karena besar, lucu, gagah, sedap dipandang ataupun yang berguna bagi kehidupan masing-masing. Lihatlah gajah, badak, beruang, banteng dan harimau. Bermainlah dengan kelinci, hamster, anjing kecil, kucing. Kagumilah singa, jaguar, cheetah atau jerapah. Pandangi merak, rajawali dan elang yang sungguh indah. Syukuri keberadaan unggas, burung-burung yang menyeimbangkan jumlah serangga, ikan-ikan yang membasmi jentik-jentik nyamuk atau bahkan cicak yang merayap.

Benturkan dengan ular, buaya, kalajengking ataupun tarantula yang menjijikkan cukup banyak orang di dunia. Lalu mengapa mereka semua tetap Tuhan ciptakan, diadakan?

Agar kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Oleh karena itu kaum beriman hendaknya selalu belajar dan belajar ulang tentang ciptaan Tuhan, terutama sesama kita. Tak semua yang kita sebut sesama manusia itu sama baik, sama santun, bermoral, punya etika. Seringkali terjadi hal-hal yang mengejutkan bahkan mengecewakan kita. Sebagian dari mereka sanggup jadi serigala atau vampir!

Mereka tidak mencabik, apalagi menghisap darah. Cukup memanipulasi uang kita, menipu, memeras, atau kadang menjambret seperti para copet.

Kelompok copet berkerah putih ini bisa muncul sebagai koruptor, pengemplang pajak, atau kadang timbul seperti istilah pagar makan tanaman. Betapa sering kita saksikan pribadi yang dipercaya mengelola keuangan justru yang memakannya sendiri, memelintir laporan, tak mau transparan karena bagi kelompok ini, ‘accountability’ bukan hal penting. Juga mengenai nama baik, reputasi, prestasi, kejujuran yang bagi mereka adalah barang langka yang tidak mereka beli.

Sebagai orang beriman yang percaya Tuhan, kita juga tak akan tega meminjamkan uang kepada teman, sahabat, apalagi saudara dengan bunga/pamrih/syarat. Kita sedianya meminjamkan dengan tulus dan ikhlas. Coba amati apa yang terjadi saat pinjaman tersebut ditagih? Yang berhutang kadang menjadi lebih galak dari pemberi hutang, yang meminjam dengan sopan dan bermulut manis tiba-tiba jadi garang.

Beberapa dari mereka marah, kecewa, merasa dirugikan. Apa yang terjadi di sini?

Seperti halnya penciptaan makhluk-makhluk, hewan dan tumbuhan, hanya Tuhanlah yang maha tahu. Tanpa bermaksud lancang atau sok tahu, tidakkah kita sesekali bertanya tentang maksud Tuhan menciptakan varietas manusia seperti ini? Tentu ada rencana Tuhan: untuk menghaluskan hati kita, menguji kesabaran kita, menempa perasaan dan emosi kita, agar anak-anak terang lulus dari segala pencobaan hidup yang fana ini.

Ad maiorem dei gloriam.

Sertai kami selalu Yesus, bimbing tangan kami, terangi jalan kami Abba, luruskan hati kami Bapa.

Agaknya kita semua diminta, diharapkan mau menerima misteri kehidupan ini dalam kelapangan hati, kebesaran jiwa untuk menerima. Acceptance.

Hanya pribadi yang mau berserah diri kepada penyelenggaraan Tuhan lah yang nantinya akan dikaruniai hidup abadi dalam kerajaan surga yang dipersiapkan bagi mereka, kita semua yang taat, setia, sederhana, rendah hati, lemah lembut, murah hati, penuh kasih, menerima keadaan, pasrah, menyerahkan diri dalam lindungan Tuhan saja. Kuasa tangan Tuhan dinyatakan dalam kelemahan kita.

Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menyatakan keprihatinan yang mendalam tentang dirinya sendiri dan juga banyak orang di sekitarnya. Keprihatinan yang sama bahkan lebih parah sedang juga terjadi saat ini. Orang-orang bodoh menganggap dirinya hebat.

Dan bila sang Maha Guru kita saja pernah diperlakukan seperti itu, siapakah kita manusia sehingga dihindarkan dari perlakuan yang sama oleh sesama? Sesungguhnya salah satu salib yang perlu kita pikul dalam hidup bermasyarakat, adalah menemukan dan mengalami semua itu. Mulai dari penderitaan, sakit hati, keterpisahan diri (alienasi), merasa sendirian saja dalam kehidupan yang fana dan singkat ini. Alone but not lonely!

Dalam masa yang semakin sulit dan tak menentu ini, kita justru diharapkan bisa semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, berjuang lebih gigih, teguh dalam iman, senantiasa dipenuhi harapan dan melakukannya demi kasih.

Vigil, Vesper 19th Jan MMXII

Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yoh 11:25)

Setiap pribadi tentu pernah terjatuh dan kata kuncinya adalah: bangun lagi, bangkit kembali. Tak mau mengasihani diri sendiri apalagi menyesali yang telah terjadi. The show must go on.

Hidup ini terus berputar, menggelinding maju, tidak statis saja. Karena itu setiap ciptaan hendaknya tidak meratapi diri apabila terjatuh, terkena prahara/musibah, terjerembab sesaat.

Ada suatu rencana besar Tuhan atas setiap perkara dalam hidup ini. God’s master plan yang tak pernah kita ketahui. Suatu misteri…

Ungkapan God works in a mysterious way sungguh terjadi!

Iman kristiani tak pernah mengenal kata putus asa, karena kita semua punya Yesus Kristus yang adalah sang Cinta Kasih sehingga setiap orang yang beriman kepadanya akan senantiasa memiliki: pengharapan akan kasih setia Bapa kita.

Janji-janji Tuhan terjadi – digenapi dari sejak dulu kala, sekarang, hingga kekal abadi sepanjang segala masa.

Yang bermeditasi tentu mengenal latihan doa dengan tubuh dan jiwa (body and soul). Juga kita tahu bahwa 3 perintah Allah yang pertama adalah hubungan vertikal ciptaan dengan penciptanya dan 7 perintah lainnya, adalah murni horizontal, inter relasi antara manusia di dunia ini.

Dalam Puri Batin St. Theresia Avila, kita paham bahwa ada tujuh ruangan (the 7 Chambers of the Interior Castle). Empat ruang pertama adalah tentang hidup manusia di dalam Allah, sedangkan tiga ruang terakhir adalah/merupakan hidup Allah di dalam ‘manusia’. Dahulu kita hidup menuruti tubuh, daging, nafsu badani, kemudian meningkat menuju roh hidup di dalam Tuhan, meninggalkan manusia lama untuk menjadi manusia baru yang hidup menurut roh.

Kata pemulihan (pulih) perlu tindakan rehabilitasi yang di dalam kamus bahasa mengandaikan suatu tindak pengembalian reputasi, peringkat, atau kondisi yang sempat hilang, tercemar ataupun terganggu fungsinya, mengembalikan pada keadaan sebelum kejadian, gangguan, cemar/rusak/sakit. Biasanya tahap rehabilitasi menuntuk kita untuk memulai dari awal lagi. Yang terkena sakit, stroke, atau pencemaran nama harus mulai belajar berjalan lagi, menggerakkan bagian yang lumpuh, meniti kembali jalan-jalan sederhana seperti kanak-kanak kembali.

Kata pemurnian juga membutuhkan kualitas kerendahan hati. Yang sombong akan merasa sudah baik, sangat oke sehingga tidak butuh dimurnikan, tidak perlu rehab karena semua baik-baik saja. Untuk pulih dan jadi murni, butuh keberanian buat mengaku bahwa:

  1. Aku selalu butuh orang lain, sesama manusia, perlu ditolong.
  2. Aku ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tak berdaya sendiri.
  3. Aku sedemikian lemah, tak mampu, tak punya, tak bisa.
  4. Aku tak selayaknya lupa diri, apalagi sombong karena apa pun.
  5. Dan yang terpenting adalah, aku ini milik siapa? Tuhanku…

Oleh karena itu, aku harus lebih banyak menolong, aku tak boleh lagi sombong, jumawa, lupa diri, tidak ugahari. Aku ini bukan apa-apa, aku berasal dari debu tanah dan segera akan kembali ke tanah lagi.

Adalah suatu anugerah Tuhan bilamana ada pribadi yang disadarkan sebelum ajal itu tiba menjemput kita, walaupun masih cukup banyak kaum lanjut usia yang belum mau mengakui fakta hidup ini… Maka berbahagialah orang yang sadar, dirahmati Tuhan buat memulai pertobatan sejati melalui hidup yang ‘benar’ di hadapan Tuhan dan sesama manusia… amin!

Pelayanan setiap orang kiranya perlu dimurnikan kembali dari waktu ke waktu, ketulusan hati, keheningan meditasi pun tak luput dari proses ‘pembedaan roh’ (discernment process) agar roh, jiwa, pikiran dan tubuh kita ini senantiasa bersedia dibentuk ulang, dihancur luluhkan jika perlu agar tempayan rapuh ragawi kita diciptakan kembali – dilahirkan baru terus-menerus oleh kuasa tangan Tuhan yang maha tahu segala rencana besarNya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.