Being disappointed is common; but blessing while being made disappointed is uncommon. To forgive is also usual; but forgiving while being hurt again and again is unusual. To give is easy; but giving with lots of sacrifices would be not that easy. To be thankful – being grateful is not so difficult; but to be continuously grateful when we have nothing is the most wonderful of all.
Konon ada sebuah cerita tentang seorang biarawan yang tinggal di pertapaan yang jauh terpisah dari kota. Suatu hari, ada seorang pencuri masuk dan membongkar seluruh isi rumah sang pertapa, namun tak berhasil menemukan apa pun yang cukup berharga untuk dicuri. Tanpa disangka biarawan tersebut pulang dan memergoki pencuri yang sedang mencari-cari sesuatu yang bisa dibawa pergi. Keterperanjatan si pencuri segera lenyap karena dengan lembut dan tenang, sang pertapa memaksa pencuri agar bersedia membawa jubah dan bajunya; memberikan roti yang ada di meja makannya, dan malah menawarkan minum.
Hari telah mulai gelap, dan saat itu si pencuri mungkin sudah sampai ke kota terdekat dari pertapaan. Sang biarawan sedang bersila tanpa baju dan jubahnya, memandangi bulan dan bintang di langit kelam, sambil berkata lirih: Kalau saja bisa kupetik bintang-bintang itu, atau pun bila bulan yang rupawan ini boleh kuberikan kepada pencuri malang yang hanya bisa kubagi sedikit dari apa yang kumiliki tadi.
Kebahagiaan sesungguhnya ada pada segala apa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing, semua yang kita miliki saat ini, dan bukan pada apa-apa yang ingin kumiliki. Biarawan yang murah hati ini sudah tak terikat lagi terhadap harta kekayaannya, ingin membagikan segala yang dapat diberinya. (bdk. Luk 18:18-27; Mat 19:16-26; Mrk 10:17-27)
Ada sebuah karya sastra besar Les Miserables yang ditulis oleh Victor Hugo yang bertutur mirip dengan cerita pertapa tadi. Pastor yang memberi tumpangan dan makan malam kepada Jean Valjean tidak menyalahkan tamu yang mencuri dan melarikan diri diam-diam, melainkan mengakui bahwa semua barang yang dilarikan oleh Jean Valjean adalah pemberian atau hadiah darinya pribadi. Sang imam bahkan menambahkan hadiah tempat lilin perak bagi si pencuri. Tindakan kasih pastor bijaksana ini mempertobatkan pendosa ini. Metanoia – sadar kembali – bersedia pulang ke Jalan Tuhan.
Juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga.
~ Luk 18:22