Idealiseme seringkali berbeda jauh dari realita kehidupan kita. Oleh karena hidup ini selalu berubah, maka hanya bagi pribadi yang mampu berubah saja, menyesuaikan diri dengan jaman dan perkembangannya yang akan memiliki kesempatan untuk berhasil, sukses, berproses menjadi. Agaknya kita semua diharapkan bersedia melewati proses tersebut agar mampu memperdalam dan memperlebar akar kita dalam formasi tangan Tuhan, jadi bejana indah yang Tuhan bentuk…
Potensi diri sejati, segala talenta pribadi kita, tak mungkin bisa muncul tanpa pengasahan, seperti proses facetting pada intan agar kemilaunya terpancar sempurna menjadi berlian. Pribadi yang mampu mengenali dan sekaligus memanfaatkan diri sejatinya dengan mempersiapkan diri, menanggapi semua kesempatan baik yang menghampiri serta mempergunakannya secara tepat, sesuai dengan rencana besar Tuhan bagi dirinya. Seize the day, grab the opportunity/chances, carpe diem. Orang-orang yang seperti inilah yang mampu menjadi para pemenang dalam kehidupan, yang tahu memanfaatkan kairos lebih baik daripada orang rata-rata, yang biasa saja, yang hanya mampu mengapung, mengikuti deras aliran hidup umum lewat rentang waktu chronos. Semua makhluk hidup melewati chronos, namun hanya beberapa yang menembus kairos.
Ada seorang bijak dari Timur yang pernah menasihati: Bukan berapa lama hidupmu atau berapa panjang umurmu, tetapi justru bagaimana engkau telah menjalani kehidupanmulah yang lebih penting. It is HOW you have lived, which is important. Hidup yang bermakna, punya arti, punya tujuan yang jelas dan benar.
Keinginan untuk maju dalam hidup ini adalah peta harta karun kita. Ilmu pengetahuan adalah peti harta karun tersebut. Kebajikan dan kebijaksanaan adalah permatanya. Namun tanpa tindakan nyata/perbuatan kita, semuanya ini hanya akan tetap tinggal terkubur dalam bumi, jadi sia-sia belaka.
Munculkanlah diri sejati yang sesungguhnya.
Semangat ingin melayani muncul dalam diri kita sendiri, sehingga tugas-tugas, pekerjaan, tanggung jawab jabatan, kita lakukan dengan kesadaran penuh hendak melayani sesama kita dan pelanggan (clients). Pribadi yang palsu yang melayani hanya karena faktor keterpaksaan, takut dimarahi atasan, atau yang berpamrih, ingin mencari muka, atau hendak bersaing dengan kolega, hanya akan mampu mencapai tingkatan pesuruh saja, bukan pelayan. Orang yang secara ikhlas dan sadar ingin melakukan pelayanan, tak akan perlu disuruh atau diperintah oleh orang lain. Yang bersangkutan akan berinisiatif berbagi sesuatu yang dimilikinya dengan orang lain yang butuh jasanya, segala talenta dan keahliannya melayani, membantu, menolong sesama.
Pribadi utuh yang bulat yang berkecukupan seperti ini akan selalu ingin berbagi sesuatu dengan orang lain di sekeliling dirinya, oleh karena pribadi semacam ini berkelimpahan berkat, karunia Tuhannya, diri sejati yang penuh.
Seringkali kita buktikan bahwa sesungguhnya dengan memberi, kita telah menerima. Semua orang bijak dunia tahu tentang fakta kehidupan ini, tantangan tidak sama dengan pantangan.
Early June 2011,
for in-house training at Raptim Indonesia