Diri pribadi setiap orang diciptakan Tuhan sebagai ciptaan yang mulia, secitra dengan gambaran rupa penciptanya. Namun lebih sering kita melupakan citra mulia tersebut. Banyak pribadi yang memilih jadi orang yang biasa-biasa saja, bukan menjadi pribadi yang unik, bertalenta, atau manusia berguna yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi lebih banyak orang di sekelilingnya. One of a kind: unique!
Dengan kehendak bebasnya, setiap manusia diberi kesempatan yang sama, kemampuan yang sama juga, namun mengapa hasil usahanya berbeda? Mampukah Tuhan memperlakukan setiap ciptaanNya secara tidak adil, karena Beliau maha adil? Sesungguhnya justru kita sendiri yang lalai, lupa, atau segan memperjuangkan citra dan cita kita sendiri; malas berusaha. Kesempatan mengukir makna hidup sering kita lewatkan, kita juga lebih kerap enggan memberi ‘arti’ hidup kita, membagi manfaat bagi sesama kita, serta memperhatikan kualitas hidup yang sedang kita jalani bersama ini…
Kepenuhan hidup – a fulfilled life: berbagilah
Pengembangan potensi diri butuh proses yang cukup panjang, dan tak mungkin terjadi dalam semalam. Tuhan mampu menumbuhkan jamur dalam semalam, namun untuk sebuah pohon yang kokoh, berakar dalam, dibutuhkan puluhan tahun.
Dalam rencanaNya, Tuhan ingin agar kita bertumbuh kuat, berakar tunjang, berdiri tegak, penuh percaya diri, dan utuh!
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna (Mat 5:48)
Our sense of worthiness – values and virtues – piala yang melimpah. Pertumbuhan pribadi – growth – process+progress = preparation!
St. Augustine dari Hippo pernah berkata bahwa kehidupan kita ini bagai sebuah buku dan mereka yang tidak mengalami perjalanan hidup dengan benar, hanya akan membaca satu halaman dari buku kehidupannya. Ada lagi seorang awam yang punya motto hidup menantang: life is either a daring adventure, or nothing. Let us unpack our dreams! Mimpi bisa menjadi nyata saat kita mau berusaha, mengupayakannya sambil berdoa.
Emas dan perak dimurnikan tujuh kali dalam panasnya api tungku. Intan diasah dengan sesama intan untuk mencapai keindahan serta segala kecemerlangan dan kemilau sebutir berlian. Demikian juga dengan pribadi unik kita, bila ingin muncul sebagai manusia unggul sejati dan berkarakter; diri pribadi yang mengerti, tahu siapa dirinya, milik siapa dirinya.
Menjadi pribadi yang membawa perubahan, diri sejati milik Tuhan.
Belajar sambil melakukan (learning by doing) bukanlah hal mudah yang sederhana, karena seringkali kita terjerembab, terjatuh, terpeleset saat mencobanya, namun ada satu kata kunci untuk kita semua yang pernah jatuh saat belajar apa pun itu, yakni bangkit lagi. Bangun, berdiri tegak kembali!
Our keyword is ‘again’! and again…
Yang patut disayangkan, tidak setiap pribadi mau belajar ulang, bersedia bangkit lagi bila terjatuh, mau mengaku bahwa setiap ciptaan Tuhan tentu pernah gagal, tergelincir, jatuh. Para nabi dan rasul pun tak luput dari pencobaan ini. Namun tak banyak yang menyadari kenyataan ini. Lebih banyak yang terpaku kepada mimpi indah dan angan-angan tinggi, namun tanpa usaha nyata, tanpa berbuat!
Butuh kerendahan hati untuk mau belajar dari awal mula lagi. Butuh usaha dalam meraih cita-cita kita. Butuh keberanian dan keuletan agar perjalanan hidup kita ini penuh dan indah. Butuh doa dalam kepatuhan, kesetiaan kita kepadaNya. Butuh keteraturan diri, disiplin, etos kerja yang benar, jika kiranya doa dan usaha kita semua tadi dikaruniai hasil baik, panen yang melimpah, atau segala berkat Tuhan atas segala jerih payah kita, kerja-keras, semua doa-doa.
Early June 2011,
for in-house training at Raptim Indonesia