Dalam setiap jaman dan generasi, kita selalu saja menemukan persoalan-persoalan hidup yang terjadi sebagai semacam ujian bagi setiap orang yang ada di jaman dan generasi tersebut. Masalahnya, tidak setiap pribadi mau atau mampu menghadapi ujian masing-masing. Malah cukup banyak yang justru “lari menghindar” dari persoalan yang semestinya dihadapi dengan kebijaksanaan dan keberanian diri.
Hendaknya kita sadar bahwa setiap ujian hidup hanya akan membawa kita kepada pertumbuhan hidup, suatu pembelajaran yang nantinya akan menuntun yang berani dan bijaksana ke tahapan pengembangan diri yang berguna bagi kehidupannya sendiri. Orang-orang yang menghindari ujian kehidupan, biasanya akan tumbuh sebagai pribadi yang pengecut, takut, tidak percaya diri, peragu, sering khawatir, dll, yang mestinya bisa diatasi yang bersangkutan jika saja tidak lari dari kenyataan.
Ketakutan, kekhawatiran, ketidakpastian sesungguhnya perlu kita atasi dengan melaluinya, menghadapinya secara jantan sehingga jika gagal pun, kita paling tidak sudah memperoleh pengalaman baru, pelajaran hidup baru, suatu ujian yang membawa kita kepada dimensi hidup yang nyata! Jatuh-bangun, gagal-berhasil, sakit-sehat, adalah bagian nyata kehidupan setiap insan, tanpa ada kecuali. Inilah indahnya romantika hidup setiap pribadi. Orang yang berhasil dalam hidupnya adalah pribadi yang mau dan mampu mengatasi itu semua.
Sudahkah kita melakukan apa yang harus kita lakukan? Pernahkah kita memperhatikan segala sesuatu yang terjadi di sekeliling kita? Tentang tokoh-tokoh besar dunia yang telah Tuhan hadirkan agar kiranya kita semua bisa menarik pelajaran dari contoh hidup mereka. Renungkanlah apa yang telah diperbuat oleh Mother Teresa dari Calcutta, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, Ludwig van Beethoven, Wolfgang Amadeus, Mozart, Vincent van Gogh, Michelangelo, atau Leonardo da Vinci yang mampu mengukir suatu karya nyata dalam hidup masing-masing. Lalu pertanyaan kita adalah: apa yang sudah kuperbuat? Apa pula rencanaku dalam “memaknai hidupku” ini? Kapan aku harus mulai?
Be strong enough to accept: challenge of life. Do not ask life “why me?”, instead say “why not?” Try me! Dare to be different. Be your self, be uniquely you.
Materialize it, make it happen! Reach your fulfillment. Every single event of our lives, every single person we meet, any single creature we encounter, are within God’s great plans for us.
They all happened for a purpose! Learning continuously, to be able to see the bigger picture of God’s master plan for every one of us.
Dengan kerja keras, usaha yang tak kenal lelah, ulet, jujur, kreatif, penuh daya imajinasi, pikiran yang positif, terus mengasah diri, selalu mau belajar membuka diri terhadap gagasan baru, serta tidak lupa berdoa memohon dari Tuhan, maka kiranya segala upaya kita tadi menghasilkan yang berharga bagi kehidupan dan hidup kita sendiri.
Agaknya kita semua sedang disadarkan oleh Sang Pencipta bahwa hidup ini butuh perjuangan (pains and toils), usaha kita, lewat ujian-ujian yang membawa pada tahapan berikutnya, pertumbuhan hidup kita yang sesungguhnya.
Tanpa ada perjuangan di atas, hidup kita ini akan miskin makna! Hidup yang miskin makna seperti itu, akan hanya berlalu begitu saja dari hadapan kita tanpa arti. Datar. Hambar.
Hidup yangtidak diamati/dijalani secara baik, lebih mirip dengan setengah kematian. Kita sebaiknya memberinya makna. Success is not for the chosen few. Success is chosen by few.
Tidak mudah memang untuk melakukan hal yang belum kita kenal akrab, sesuatu yang masih asing, masih baru. Namun dengan keberanian hati, tekad bulat mau mulai melangkah, melewati setiap ujian, setiap pencobaan hidup, maka kita akan senantiasa melangkah maju dalam hidup ini. Selalu percaya, penuh pengharapan, dalam kasih yang kita jalankan untuk setiap langkah kehidupan, akan membuat kita mampu melewati banyak rintangan selama perziarahan hidup kita. Hidup seorang manusia akan terasa berarti bila diisi dengan pengalaman serta kejadian yang bermanfaat bagi pencipta, sesama kita, dan untuk diri sendiri pada akhirnya. Seorang bijak mengatakan, “It is not how long you live, but it is how you have lived, which is important.”
Semoga rekoleksi anda semua bermanfaat dan berkesan. C’est la vie! Itulah hidup.
Vigils of Good Friday, 2008
Rekoleksi P3A 2008
Universitas Katolik Atma Jaya